BELAJAR JADI SALAF

Imam Al-Muzany rahimahullah bercerita :
“Aku menemui Imam Asy-Syafi’i menjelang wafatnya, dan berkata, “……Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai ustadzku?”

Beliau ( Imam Syafi’i ) menjawab :
“….Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia,.. akan berpisah dengan kawan-kawanku, meneguk gelas kematian. Menghadap Allah Maha Rohim dan menjumpai kejelasan amalanku. Aku tidak tahu,… apakah diriku berjalan ke surga kegembiraan, atau berjalan ke neraka kesedihan. ”

Aku berkata, “Nasehatilah Aku.”

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berpesan :
1. Bertakwalah kepada Allah,.. permisalkan akhirat itu ada didalam hatimu.
Jadikanlah kematian ada diantara kedua matamu dan jangan lupa… engkau tlah berdiri dihadapan Allah.
2. Takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah apa-apa yang Dia haramkan. Tunaikan segala yang diwajibkan, dan terusnya menjaga kebersamaan denganNYA dimanapun engkau berada.
3. Jangan sekali-kali kau menganggap kecil nikmat Allah terhadapmu -walaupun nikmat itu betul2 hanya sedikit- dan balaslah dengan bersyukur.
4. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran.
5. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah orang yang memutus silaturrahmi kepadamu. Berbuat baiklah kepada siapa yang berbuat jelek kepadamu, 6. Bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata lagi, “Tambahkan (nasehatmu) kepadaku.”

Beliau pun melanjutkan,
7. Hendaknya kejujuran adalah lisanmu.. menepati janji adalah tiang tonggakmu.. rahmat adalah buahmu.. kesyukuran adalah thaharahmu.. kebenaran sebagai perniagaanmu.. kasih sayang adalah perhiasanmu.. kecerdikan adalah daya tangkapmu.. ketaatan sebagai mata pencaharianmu.. ridha sebagai amanahmu.. pemahaman adalah penglihatanmu.. rasa harap adalah kesabaranmu.. rasa takut sebagai jilbabmu.. shadaqah sebagai pelindungmu.. dan zakat sebagai bentengmu.. 8. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu.. sifat tidak tergesa-gesa sebagai menterimu.. tawakkal sebagai baju tamengmu… dunia sebagai penjaramu.. dan kefakiran sebagai pembaringanmu.
9. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu.. haji dan jihad sebagai tujuanmu.. kejelasan Al-Qur’an sebagai pembicaramu.. dan jadikanlah Allah sebagai penyejukmu. Siapa yang sifatnya seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir :

wahai illah segenap makhluk…
wahai pemilik anugerah dan kebaikan..
ku angkat harapanku, walau aku bergelimang dosa.

Hatiku telah membatu dan sempitnya segala jalanku..
Kujadikan harapan atas pengampunanmu..
sebagai tangga bagiku.

Dosaku teramat besar, namun ternyata maaf-Mu lebihlah besar.
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf..
dan terus menerus Engkau memberi derma dan maaf
sebagai nikmat dan pemuliaan…

Andaikata bukan karena-Mu,
tidak seorangpun ahli ibadah yang tersesat oleh iblis.
Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu Adam.

Kalaulah Engkau memaafkan aku,
maka Engkau telah memaafkan seorang yang congkak,
yang zholim lagi sewenang-wenang dan masih terus berbuat dosa.

Andaikata Engkau menyiksaku,
tidaklah aku berputus asa
karena aku tahu, maaf-Mu
lebih tinggi dan lebih besar.

KItab : Nasehat Imam Syafi’i
Bab III hal 144.

Tentang muhibbinrasulullahsaw

majelis dzikir
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s