Puasa di Bulan Sya’ban

Bahasa Indonesia: Kolak, salah satu makanan kh...

Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah az Zahidiy,
bahwa dia berkata:
Kawan saya Abu Hafshin al Kabir telah meninggal dunia, maka saya menyalatinya. Tapi kemudian saya tidak mengunjungi kuburnya lagi selama delapan bulan.
Ketika saya teringat.. kmudian saya berniat, ingin menengok kuburnya.

Ketika saya tidur di malam hari, saya bermimpi melihatnya. Mukanya berubah menjadi pucat. Saya berucap salam padanya tapi dia tidak membalasnya.
Saya bertanya : “….Subhanallah, knapa kau tak menjawab salam ku?”

Membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari itu,” jawabnya.

“Hiya, tapi knapa wajahmu berubah, padahal sungguh.. kau dulu berwajah bagus?” tanya saya.

Dia menjawab: “Ketika aku dibaringkan di dalam kubur, datang satu malaikat dan berkata: “Hai si tua yang jahat…!!!,”
lalu dia menghitung semua dosa ku dan sgl tindakan jahat ku, bahkan memukul ku dengan sebatang kayu hingga badan ku panas srasa terbakar.

Bahkan Kubur pun ikut berkata : “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku?”, yang lalu kubur pun menghimpit ku dengan himpitan yang kuat hingga tulang rusuk ku hancur bertebaran dan sendi-sendinya terpisah-pisah. Siksaan itu berlangsung sampai malam pertama bulan Sya’ban.
Waktu itu ada suara mengundang dari atas saya: “Hai malaikat, angkat batang kayu dan siksamu dari nya, karena sesungguhnya dia pernah menghidup-hidupkan satu malam dari bulan Sya’ban disepanjang usia hidupnya dan pernah berpuasa satu hari di bulan Sya’ban.”
Allah SWT menghapuskan siksa dari ku dan memberi kegembiraan dengan surga dan kasih sayang-Nya.

==================================

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi saw biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruh tahun. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.”
(HR. Muslim no. 1156)

=============================

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.

“Nabi saw dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

============================

Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata,
“Katakanlah, wahai Rasul sa…, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban.”
Nabi saw bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai.. yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan.
Bulan tersebut adalah… bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam.
Oleh karena itu, AKU AMAT LAH SUKA BERPUASA ketika amalanku dinaikkan.”
(HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (kitab Lathoif Al Ma’arif, 235)
 

Tentang muhibbinrasulullahsaw

majelis dzikir
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s